Fokus Aktual

Pilkada

Serpihan

Figur Inspiratif

Bangkalan Aktual

Sampang Aktual

Pamekasan Aktual

Sumenep Aktual

Ekspose

Potensi Konflik Pilkada Serentak 2018 Lebih menghawatirkan

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: 07 November 2017 |

Madura_Aktual, Jakarta;  Tugas pengamanan yang lebih berat tampaknya menunggu di pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018. Pasalnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) memprediksi potensi konflik dalam penyelenggaraan Pilkada 2018 bakal lebih besar dari pelaksanaan sebelumnya.

Ketua KPU Arief Budiman menilai ada beberapa faktor yang menyebabkan potensi konflik meningkat pada Pilkada serentak 2018. Di antaranya terkait waktunya berdekatan dengan pemilihan umum tahun 2019, banyaknya daerah yang menggelar pilkada, banyaknya pemilih, serta tingginya anggaran.

"Potensi konflik selama pilkada 2018 bagi kami (KPU) sepertinya tinggi, karena pertarungan di 2018 ini melibatkan paling banyak hal," kata Arief di gedung KPU Jakarta, Selasa (7/11).

Kekhawatiran Arief cukup beralasan. Sebab pelaksanaan pilkada serentak yang dijadwalkan berlangsung Juni 2018 diikuti oleh 171 daerah, yakni terdiri atas 17 provinsi dan 154 kabupaten dan kota ini bersamaan dengan tahapan persiapan pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden di 2019.

Keadaan ini tentunya jadi pekerjaan rumah besar bagi penyelenggara pemilu di daerah karena bekerja ekstra untuk pelaksanaan pilkada dan persiapan Pemilu 2019.
Selain itu, jumlah pemilih pilkada yang hampir menyerupai jumlah pemilih nasional juga menjadi faktor potensi konflik di daerah tinggi.

"Jumlah pemilih di pilkada 2018 ada 158 juta, yang artinya itu 80 persen dari total pemilih nasional di 2019 yang mencapai 197 juta pemilih. Hal itu yang kemudian membuat kami memiliki banyak catatan di pilkada," tambahnya.

Terkait potensi konflik selama pilkada, pemerintah telah bekerja sama dengan lembaga penyelenggara, KPU dan Bawaslu untuk memetakan kerawanan pemilu.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan Pemerintah bersama dengan lembaga penyelenggara pemilu telah memetakan kerawanan pemilu, khususnya di wilayah Papua dan Papua Barat.

"Saat ini, kami memang fokus pada Papua. Kami sempurnakan sistem noken itu bagaimana. Juga dengan pengalaman kemarin, suhu politik di Papua itu selalu memanas tatkala menjelang pilkada dan pemilu," kata Wiranto.

Dia mengatakan pihaknya bersama KPU dan Bawaslu telah berkoordinasi untuk mempersiapkan langkah-langkah kewaspadaan guna menetralkan jika terjadi eskalasi kericuhan selama Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. (Nofanolo Zagoto/sumber: http://validnews.co)

Seminar Nasional Budaya Madura IV, UTM Bangkalan

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: |

Madura_Aktual, Bangkalan:  Salah satu wujud nyata LPPM UTM sebagai salah Satu penyokong kemajuan dan pelestarian budaya Madura, dengan menyelenggarakan Apol- Kompol Sataretanan yang diisi dengan Launching Pojok Madura, Seminar Nasional Budaya Madura IV dan bedah buku karya Prof. Mien Ahmad Rifai dengan judul “Lintasan Sejarah Madura”

“Adanya Launching Pojok Madura diharapkan menjadi pusat Penelitian dan Referensi tentang Madura yang berpusat  di LPPM UTM”, ujar salah seorang aktifis LPPM Trunojoyo UTM Bangkalan, Senin, (6/10/2017)

Rangkaian acara yang kedua dari Apol- Kompol Sataretanan yaitu Seminar Nasional Budaya Madura IV dengan tema “ Peluang dan Tantangan Sosial, Ekonomi dan Budaya di Madura”.

Pada kesempatan kali ini LPPM UTM menghadirkan, Prof. Abdul Hadi W.M. untuk berbicara tentang sastra madura. Beliau adalah salah satu sastrawan, budayawan dan ahli filsafat Indonesia. Ia dikenal melalui karya -karyanya yang bernafaskan sufistik, penelitian dalam bidang kesusastraan melayu Nusantara dan pandangannya tentang Islam dan Pluralisme.

Pembicara selanjutnya diisi oleh Prof. Iwan Triyuwono, SE. Ak M.ec.,Ph.D yang membahas tentang peluang,Tantangan Ekonomi Madura. Beliau adalah salah satu putra Madura yang menjadi Guru Besar di Universitas Brawijaya Malang.

Pembicara selanjutnya diisi oleh Dr, Abdul Latif Bustomi. Beliau adalah salah satu tim ahli warisan budaya takbenda Indonesia tahun 2016 bidang Upacara dan situs tradisional. yang akan membahas tentang budaya madura.

Rangkaian acara yang ketiga dari Apol- Kompol Sataretanan bedah buku karya Prof. Mien Ahmad Rifai dengan judul “Lintasan Sejarah Madura” yang akan dibahas oleh Dr. Mutmainnah, S.sos., M.si beliau adalah salah satu dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya UTM.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh mahasiswa dari Universitas dan Sekolah Tinggi yang ada di Madura, Komunitas Seni, Komunitas Guru Bahasa Madura serta pemerhati budaya dan budayawan Madura adarisman Sastrodiwiryo, Syaf Anton Wr, Lilik Rosida Irmawati, Tika Suhartatik  Adrian Prawita dan lainnya. (LPPM.Trunojoyo)

Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (4)

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: |

Esai Addarori Ibnu Wardi

Menjaga Masjid dengan menghidupkannya, berarti menjaga ajarannya dari ajaran yang salah. menjaga masjid, berarti menjaga masyarakat dari ajaran radikal. DI Bogor, tempat pertumbuhan paham radikal paling banyak itu di masjid.

Kalau orang yang sudah pernah nyantri dan Alim, apalagi sudah dekat dengan Kiai seperti K. Hazmi Latee K. M Faizi ini enggan kembali ke masjid, pantaskah gerakan mereka yang kita anggap salah itu disalahkan? Kata Tan Malaka, "Bila kaum muda yang telah belajar di Sekolah dan menggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali."

Saya sedikit mau meniru Tan, "Jika seorang santri yang sudah Alim Ilmu Agama sudah merasa terlalu tinggi untuk kembali, maka lebih baik, Ilmu Agama itu tidak diberikan sama sekali."

Wallahua'lam.
NB : Bagi Kalian yang merasa Mayoritas dan merasa paling benar di Jawa, lalu seenaknya mengata-ngatai Ustaz kaum minoritas yang kalian anggap salah, ingat kalian punya saudara dibeberapa tempat diluar jawa yang menjadi minoritas, dan diperlakukan sama oleh mereka yang menurut kalian minoritas.

sumber akun FB Addarori Ibnu Wardi


bersambung
  1. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat dari Radikalisme (1)
  2. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (2)
  3. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (3)
  4. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (4)


Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (3)

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: |

Esai Addarori Ibnu Wardi

Sedikit saya punya pengalaman, kenal dengan seorang Mahasiswi awalnya dia berpenampilan biasa saja, bahkan cenderung 'Mengumbar' aurat. Selama 3 bulan, sekarang anak itu sudah berubah menjadi Perempuan yang bercadar, dengan pakaian yang membahayakan kalau pakai motor manual, karena bisa nyangkut di Gir. Setelah saya tanya, apakah keluarga dia tidak merasa aneh atau mungkin bahkan keberatan? dia menjawab "TIdak.! Justru keluargaku yang latar belakangnya lulusan SMP, mereka senang dengan perubahanku. Aku juga mengajarkan mereka untuk Belajar Islam yang benar. Adikku juga sudah mulai merubah penampilan, dan bapakku juga. Apalagi, aku juga makin aktif ke musalla atau masjid." Mendengar jawaban ini, hati saya langsung Njleb, kayak disiram air panas.

Artinya apa? Sementara mereka yang kita anggap salah, terus menggunakan pola-pola dakwah ke tempat-tempat yang saya sendiri menjauhi. Alasan mereka sederhana banget, selain bersentuhan dengan masyarakat langsung, Masjid adalah tempat yang paling murah untuk melakukan kegiatan, karena gratis. Syukur-syukur kalau ngadain kegiatan malah masyarakat membantu mereka dengan memberi makanan atau kebutuhan-kebutuhan mereka. Sementara saya sibuk mencari tempat mewah dengan dana dari Proposal sana-sini. Bukankah Barrack Obama juga membuat masyarakat 'sadar' Politik hingga mereka banyak yang menyisihkan uangnya untuk Kepentingan Obama nyalon presiden?

Kesimpulannya, seharusnya saya melawan 'musuh' itu sesuai dengan apa yang musuh kita lakukan. Gerakan lawan dengan gerakan yang sama. Kalau musuh kita sedang menyandera masyarakat banyak, lalu kita memborbardir dengan bom atom, ya nasibnya akan sama dengan Hiroshima dan Nagasaki. Masyarakat akan mati, bukan terselamatkan. Kalau gerakan dakwah mereka yang demikian justru dibalas dengan kecaman hingga caci maki, percayalah, kepercayaan mereka pada saya akan terus berkurang dan habis.

Setelah itu, saya mencoba meneguhkan hati, Oke saya kembali kemasjid. Saya akan menemani anak-anak SD mengaji, bercerita tentang Rasulullah yang ringan-ringan. Karena, tujuan saya mencari ilmu adalah untuk terus menyalurkan ilmu yang saya dapatkan agar terus mengalir Ilmu itu dengan baik. Kembali ke Masjid, kembali ke masyarakat.

setelah perenungan ini, saya menjadi sadar apa yang menjadi cerita Mas Saiful Sayyidan saat dulu di Presidium GMNI lalu ditanya oleh Almarhum Bapak Taufiq Kiemas. "Syaiful, kamu setelah ini (Di GMNI) mau jadi apa?", mas Syaiful menjawab "Saya mau kembali ke Kampung dan menjadi tukang adzan di Musalla."

bersambung
  1. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat dari Radikalisme (1)
  2. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (2)
  3. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (3)
  4. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (4)

Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (2)

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: |

Esai Addarori Ibnu Wardi

Percaya atau tidak, mereka bahkan mengadakan diskusi di masjid, sementara kita yang merasa paling Islam malah memilih alam terbuka bahkan ke cafe-cafe. dan prilaku begini, sudah dikritik oleh seorang sahabat Ongky Arista Ujang Arisandi dalam tulisannya beberapa waktu yang lalu. Semakin ngeri lagi, mereka juga sering membuat pameran literasi diteras masjid hingga amperan kampus. Saya? orang yang bolak-balik baca buku "Aksi Massa" tulisan Tan Malaka, tidak bisa menangkap apa itu dasar gerakan, yakni "Cerdaskan dulu masyarakat (Massa), maka mereka akan bergerak sendiri".

Kesalahan orang seperti saya adalah, saya terlalu sibuk mencari Literasi dari buku saku hingga 10 kitab utama tafsir yang paling kuat (Kalau saya gak paham tafsir), lalu mendebat di Medsos atau di dunia nyata kalau mereka itu salah. Sementara, untuk 'bersaing' merebut peran mereka yang justru lebih bersentuhan langsung dengan masyarakat, enggan. Saya mungkin lupa, dulu Baghdad menjadi kota 1001 malam karena masjid tidak hanya menjadi alarm salat, tapi fungsinya tempat untuk berdakwah, berdiskusi, bahkan Perpustakaan. Teringat cerita K. Ahmad Madzkur Awab beberapa waktu lalu, pengalaman sekolah di Mekkah, justru katanya banyak guru besar mengajar.di Masjidil haram. Seharusnya ini menjadi pelajaran bagi saya dalam menerapkan konsep Aksi Massa.

Belum lagi, pembawaan mereka yang begitu kalem, justru membuat mereka lebih bisa diterima oleh Massa, dari pada saya yang selalu sok tau dan menyalah-nyalahkan mereka. Hebatnya, ketika memamerkan koleksi perpus mereka, koleksinya dari buku Nasionalisme, Sosialisme, hingga liberalisme. Buku Agama? Jangan ditanya lagi. dan dengan entengnya mereka akan bicara. Baca Buku ini, lalu bandingkan dengan buku ini (Literatur mereka yang asli), menurut kalian, mana yang paling benar? Sedangkan mereka, serius saya, mereka jamak yang bicara begini malah tidak paham Fiqih dasar tentang perbedaan antara Suci dan Bersih, Najis dan Kotor.Hebat kan?

Pengikut mereka banyak Lulusan SMA yang jelas-jelas banyak yang minim dasar keagamaannya. Dengan penampilan yang serba tertutup, dengan mudahnya mereka mudah untuk mendoktrin kader-kader baru. Tidak usah njlimet, cukup bilang ini haram, ini halal, menyikapi ini sabar, tawakkal dsb, anak-anak yang masih hangat-hangatnya menjadi Mahasiswa akan ikut dengan mereka. satu lagi, Mereka berjanji akan 'memberi' surga.!

bersambung
  1. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat dari Radikalisme (1)
  2. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (2)
  3. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (3)
  4. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (4)


Jurnalisme Warga

Budaya Madura

Lihat seluruh kategori Budaya Madura»

Wisata Madura

Lihat seluruh kategori Wisata Madura»

Dunia Wanita

Lihat seluruh kategori Dunia Wanita»

Hidup Sehat

Lihat seluruh kategori Hidup Sehat»

Akar Rumput

Lihat seluruh kategori Akar Rumput»

Kiat Kreatif

Lihat seluruh kategori Kiat Kreatif»