Fokus Aktual

Pilkada

Serpihan

Figur Inspiratif

Bangkalan Aktual

Sampang Aktual

Pamekasan Aktual

Sumenep Aktual

Ekspose

Waspada Oknum yang Mengaku Petugas PLN

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: 20 September 2017 |

Madura_Aktua, Pamekasan;  Maraknya modus penipuan yang dilakukan oleh beberapa oknum yang mengatasnamakan petugas PLN yang dilengkapi dengan Id Card dan surat tugas, PLN Area Pamekasan mengimbau masyarakat untuk berhati-hati.

Manager PT. PLN Area Pamekasan Puguh Prijandoko melalui Asisten Manager Jaringan dan Administrasi Hudono mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati atau waspada kepada oknum yang mengaku sebagai petugas PLN.

"Kepada Masyarakat/Pelanggan PLN Yth, untuk menghindari penipuan yang mengatasnamakan PLN, dihimbau kepada masyarakat dan pelanggan agar selalu waspada apabila ada petugas datang mengatasnamakan PLN," jelasnya, Rabu (20/9/2017).

Menurutnya, perlu diperhatikan bahwa petugas PLN tidak menjual kotak pelindung meter, peralatan penghemat listrik atau peralatan listrik apapun.

"PLN juga tidak menawarkan jasa layanan pasang baru, tambah daya, atau pembayaran tagihan rekening listrik dengan transaksi pembayaran langsung di rumah pelanggan," imbuhnya.

Ia menambahkan, PLN tidak pernah mewarkan jasa pemberian paket subsidi kepada pelanggan. Semua data penerima subsidi terdaftar di Kementerian Sosial.

Hudono menjelaskan, untuk informasi terkait layanan dan pengaduan PLN dapat disampaikan melalui channel resmi Contact Center PLN 123 yang dapat diakses melalui Telepon 123, Handphone (kode area + 123), Facebook PLN 123, Twitter@pln_123, Email pln123@pln.co.id, website www.pln.co.id

“Kami pihak PLN Area Pamekasan menghimbau kepada masyarakat untuk menyebarkan info ini kepada keluarga dan kolega lain agar tidak ada korban penipuan yang mengatasnamakan petugas kami PLN,” pungkas Hudono. (suarajatimpost.com)


Isu Kebangkitan PKI Tak Segera Terselesaikan

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: |

 PKI, Bujur Sangkar Cerita, dan Labelisasi yang Menyejarah

Isu tentang kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) muncul kembali. Ini bukan kali pertama terjadi. Medio 2012, isu ini juga muncul dan menyodok Nahdlatul Ulama sebagai kelompok yang ikut bertanggung jawab atas terbunuhnya orang-orang PKI dan yang dianggap simpatisan partai itu.

Peristiwa 1965 menghadirkan tiga sisi cerita sejarah: versi saya, versi Anda, dan versi mereka. Seharusnya ada sisi keempat, versi kita, yang berarti berisi kesepakatan semua pihak yang berada dalam pusaran sejarah kelam itu tentang bagaimana kisah tersebut diceritakan kepada anak-cucu. Namun mengharapkan sisi keempat ini hadir mungkin akan membuat kita seperti Godot dalam drama Samuel Beckett: menanti dalam ketidakpastian. Semua pihak membangun argumentasi dan rasionalisasi masing-masing. Perintah agar film G30S/PKI yang disutradarai Arifin C. Noer diputar kembali di lingkungan TNI adalah salah satu bukti bahwa pada akhirnya setiap pihak bersikukuh di posisi masing-masing.

Kisah tentang Peristiwa 1965 tak akan pernah menjadi bujur sangkar utuh yang sama panjang di setiap sisi, karena ada satu sisi yang absen dan berlubang, dan ini justru sisi yang terpenting: konsensus semua pihak.

Apa yang membuat sisi keempat dalam bujur sangkar Peristiwa 1965 sulit dihadirkan? Tentu saja akan ada banyak jawaban. Namun ada dua variabel penting yang mengemuka: kepentingan politik dan masih adanya dikotomi 'pelaku' dan 'korban'.

Variabel kepentingan politik sulit dikendalikan, karena ada banyak aktor yang terlibat dan berkepentingan dengan isu itu. Jangan membayangkan isu kebangkitan PKI hanya dimanfaatkan satu kelompok (ideologis maupun pragmatis) dengan kepentingan yang sama. Isu apapun di negeri ini bisa dilemparkan dan dikunyah siapapun. Semua tergantung pada kepiawaian memainkan isu itu untuk tujuan lebih besar. Apa yang tampak di permukaan tak selamanya menunjukkan apa yang di bawah permukaan.

Variabel kedua adalah labelisasi oposisi biner 'korban' dan 'pelaku'. Peristiwa 1965 sudah berlalu 52 tahun silam. Sebagian besar aktornya, untuk tidak mengatakan semuanya, sudah tak lagi panjang umur. Hari ini mereka yang membicarakan isu itu adalah generasi baru yang bahkan mungkin belum lahir saat peristiwa tersebut terjadi dan sebenarnya otomatis terbebas dari beban sejarah. Namun generasi baru tak selamanya bisa menggaransi hadirnya konsensus, karena masih adanya skenario penyelesaian persoalan dengan perspektif dikotomis 'korban' dan 'pelaku'.

'Korban' diposisikan lebih superior dalam narasi yang hendak dibangun untuk mengungkap Peristiwa 1965. Problem utamanya: siapa yang sesungguhnya menjadi korban dalam sebuah peristiwa politik masa lampau yang ruwet. Pada akhirnya, semua bisa berada pada posisi yang sama 'korban' sekaligus 'pelaku' yang ikut bertanggungjawab memicunya.

Saat isu PKI menyodok NU lima tahun silam, Rais Aam Pengurus Besar NU KH MA Sahal Mahfudh memerintahkan adanya klarifikasi, sehingga tidak membuat kaum nahdliyyin dan umat Islam merasa terpojok. Sejumlah ulama menemui PBNU pada 12 Oktober 2012 dan meminta agar segera menerbitkan buku sejarah menurut perspektif NU.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong dari unsur NU KH Ahmad Syaichu sejak lama mengampanyekan pentingnya kaum Nahdliyyin membangun argumentasi sejarah sendiri, jika tak ingin tertelan dalam pertarungan narasi historis Peristiwa 1965. Dalam adu sikut narasi ini, umat Islam diposisikan dalam situasi yang tak menguntungkan: pelaku sekaligus boneka yang dimanfaatkan, yang semuanya berkonotoasi negatif.

"Kita wajib meneliti sejarah di dalam perjalanan NU sejak 1965 sampai 1968, di samping segi-segi positif yang benar ada beberapa hal yang negatif dan yang kurang benar. Ini perlu kita ubah dan perlu kita teliti, yang tidak benar itu bisa kita tertibkan," kata Syaichu.

Abdul Mun'im DZ, penulis buku putih 'Benturan NU-PKI 1948-1965', menyatakan: 'Kalau rekonsiliasi mensyaratkan adanya kebenaran dan keadilan, maka baru kali ini menyatakan kebenaran menurut pandangan NU'. Buku itu dengan gamblang bercerita, bahwa Peristiwa 1965 tidak bisa dipandang dalam perspektif peristiwa tunggal dan terputus dari rangkaian peristiwa pemicu sebelumnya, yang memosisikan umat Islam sebagai 'korban' dan PKI yang saat itu superior secara politik sebagai 'pelaku'.
Wakil Ketua Umum PBNU As'ad Said Ali dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan pada 1 Oktober 2012 menyebut PKI ikut bertanggung jawab 'menciptakan suasana yang sedemikian tegang, sehingga pada situasi 'to killed' or 'to be killed' (membunuh atau dibunuh), dalam sebuah perang saudara'.

Jadi, isu kebangkitan PKI akan selalu berulang ketika dua variabel pokok yang mengelilinginya tak segera diselesaikan. Kita sulit untuk mengendalikan variabel pertama. Namun tentu kita bisa berikhtiar untuk mengupayakan penyelesaian variabel kedua: menghilangkan dikotomi label 'korban' dan 'pelaku' dan membuatnya tak menyejarah, karena variabel ini tak akan pernah bisa membuat terang-benderang persoalan kecuali memperbesar luka yang tak sembuh-sembuh, sekaligus mereproduksi narasi kambing hitam dari generasi ke generasi. [beritajatim.com]

Menggali Makna Bulan Hijrah

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: 19 September 2017 |

Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah bukan berarti meniru perayaan tahun baru Masehi.

Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah harus dilakukan sesuai dengan tujuan dijadikannya hijrah sebagai awal sistem penanggalan Islam, yakni memaknai dan mengamalkan hijrah.

Hijrah adalah bagian dari strategi dakwah yang berbuah berdirinya Daulah Islam di Madinah hingga terbentuknya Khilafah Islamiyah, termasuk Khulafaur Rasyidin, hingga Khilafah Turki Utsmaniyah (Ottoman Turki) sebagai khilafah terakhir dalam sejarah Islam.

Hijrah masih berlaku hingga kini. Hijrah setelah Futuh Makkah, menurut Nabi Muhammad Saw, adalah "meninggalkan hal dilarang" alias melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

Hijrah, sebagaimana peristiwa penting lain, juga mengandukung hikmah (pelajaran). Penggalian makna hijrah harus dilakukan dalam peringatan tahun baru Islam.

“Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)

“Muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti Muslim dengan lidah dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan semua apa yang Allah telah larang.”  (HR Bukhari).

"Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

Alasan Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah Harus Diperingati Umat Islam, tapi bukan berarti wajib. Peringatan Tahun Baru Hijriyah juga demi syi'ar dakwah, sekaligus sosialisasi atau kampanye tahun Islam di kalangan umat sendiri. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Inilah Alasan Tahun Baru Islam Harus Diperingati

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: |

Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah adalah memperingati hijrah Nabi Muhammad Saw dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi

Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah merupakan hari penting dan bersejarah bagi umat Islam. Awal tahun baru Islam menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam, yaitu memperingati peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw dari Kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Di bulan Muharram juga ada amalan sunnah yang sangat dianjurkan, yakni Puasa Asy-Syura.

Merayakan atau memperingati tahun baru Islam 1 Muharram hakikatnya adalah mengenang kembali peristiwa hijrah sekaligus mendalami makna hijrah dan pengamalannya masa kini.

Kalender Hijriyah yang menjadasi sistem penanggalan kaum Muslim ini menjadikan hijrah sebagai awal perhitungan tahun dalam Islam. Kita pun sering mendengar/membaca istilah "Tahun Kedua Hijrah" dan semacamnya.

Dr. Hasan Ibrahim Hasan dalam Zu'amaul Islam (1953) melukiskan penetapan hijrah sebagai awal tahun baru Islam sebagai berikut:
"Pada suatu hari Khalifah Umar bin Khathab memanggil dewan permusyawaratan untuk membicarakan perihal sistim penanggalan. Ali bin Ali Thalib mengusulkan agar penanggalan Islam dimulai sejak peristiwa hijrah ke Madinah sebagai momentum saat ditinggalkannya bumi musyrik. Usul Ali kemudian diterima sidang. Khalifah Umar menerima keputusan sidang dan mendekritkan berlakunya Tahun Hijriyah. Peristiwa hijrah merupakan momentum zaman baru pengembangan Islam, melandasi kedaulatan Islam serta penampilan integritas sebagai agama sepanjang zaman".

Hijrah bukan sekadar pindah tempat tinggal atau pindah rumah. Hijrah yang merupakan perintah Allah SWT juga merupakan strategi perjuangan dalam dakwah Islam.

Dalam sidang penetapan sistem penanggalan Islam, ada yang mengusulkan awal tanggal Islam ditetapkan pada hari Rasulullah diangkat sebagai nabi dan rasul. Namun, karena para sahabat memahami Rasulullah Saw menentang "kultus individu", tidak ingin "didewakan".

Maka, para sahabat saat itu memilih usul Ali yang menyarankan awal tanggal Islam dimulai dari peristiwa hijrah.

Sejak penanggalan Islam (Hijriyah) didasarkan pada peredaran bulan (lunar), bukan peredaran matahari (solar) sebagaimana sistem penanggalan Masehi.

Karenanya, awal hari dalam Islam adalah waktu Magrib atau saat matahari tenggelam. Itulah sebabnya, umat Islam biasa menetapkan awal Ramadhan pada sore hari hingga Magrib karena awal hari dalam kalender Islam (Hijriyah) adalah awal malam itu. (Risalah Islam)

Inilah Sejarah Tahun Baru Islam

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: |

Kamis, 21 September 2017 atau 1 Muharam 1439 Hijriah , umat Muslim se duni akan memperingati  tahun baru Islam. Di Indonesia, tahun baru Hijriah jatuh pada  Kamis (21/9/2017).

Menurut sejarahnya, tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah ditetapkan Umar bin Al-Khattab untuk menandai peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah de Madinah pada tahun 622 masehi.

Kalender Hijriah belum ada ketika zaman Rasulullah. Kalender Hijriah ini baru dimulai pada zaman Khalifah Arrasyidin kedua di masa Umar bin Al-Khattab r.a atau 6 tahun setelah Nabi Muhammad wafat.

Riwayat menyebutkan, munculnya tahun baru Hijriah dilatarbelakangi ketika khalifah dapat balasan yang mengkritik bahwa suratnya terdahulu dikirim tanpa tahun. Beliau lalu bermusyawarah dengan para sahabat dan bersepakat menjadikan peristiwa hijrah Muhammad dari Mekah ke Madinah sebagai awal mula perhitungan tahun dalam Islam.

Penetapan tahun baru Hijriah adalah untuk mengenang betapa pentingnya tanggal hijriah yang menjadi perubahan paradigma dalam sejarah agama Islam.

Bagi umat Islam, peringatan 1 Muharram merupakan momen yang pas untuk hijrah dengan menjadi pribadi yang lebih baik. Hijrah yang dimaksud yaitu perpindahan dari kufur menuju iman, peningkatan mutu dari segi spiritual dan intelektual, serta peningkatan semangat dan kesungguhan dalam ibadah kepada Allah.

Jurnalisme Warga

Budaya Madura

Lihat seluruh kategori Budaya Madura»

Wisata Madura

Lihat seluruh kategori Wisata Madura»

Dunia Wanita

Lihat seluruh kategori Dunia Wanita»

Hidup Sehat

Lihat seluruh kategori Hidup Sehat»

Akar Rumput

Lihat seluruh kategori Akar Rumput»

Kiat Kreatif

Lihat seluruh kategori Kiat Kreatif»